Ir. Ciputra Tokoh Entrepreneur Indonesia
May 28, 2015Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimpin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya karisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Dan hal – hal seperti itu pula yang melekat pada pria hebat satu ini.Ir. Ciputra lahir di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan, ia anak ke 3 dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang juga berlatar belakang keluarga sederhana. Ketika berusia 12 tahun ia kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu dianggap mata-mata Belanda. Maka dari itu Ciputra kecil mulai bersungguh – sungguh menuntut ilmu agar kehidupan nya sedikit demi sedikit bisa membaik.
Kepahitan masa kecil telah menimbulkan tekad dan keputusan penting yaitu memiliki cita-cita bersekolah di Pulau Jawa demi hari depan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan. Akhirnya Dr. Ir. Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah walau terlambat. Ia terlambat karena negara kita masih dalam suasana peperangan dengan tentara Belanda maupun Jepang. Ia masuk kelas 3 SD di desa Bumbulan walau usianya sudah 12 tahun atau terlambat hampir 4 tahun. Ketika usianya 16 tahun lulus dari SD kemudian melanjutkan SMP di Gorontalo dan jenjang SMA di Menado setelah itu memasuki ITB jurusan arsitektur di Bandung. Ia memlilih jurusan arsitektur karena ia bertekad ingin membangun sesuatu nanti nya.
Keseluruhan pendidikan masa remaja Dr. Ir. Ciputra memang merupakan gabungan dari pendidikan yang akademis dan juga non akademis, di dalam kelas dan juga di luar kelas. Inilah yang dapat disebut sebagai sekolah kehidupan yang membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan utuh. Oleh karena itu tidak heran bila saat ini ia berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membangun manusia seutuhnya dan beberapa cirinya adalah membangun moral, mendorong kreativitas dan mendidik karakter-karakter mandiri siswa-siswinya.
Apabila mengacu pada penggolongan teori organisasi mengenai kepemimpinan dalam organisasi Ir Ciputra termasuk ke dalam teori sifat dan dan perilaku karena beliau apa yang beliau dapatkan sekarang adalah hasil dari segala kerja keras dan semua itu terbentuk ketika beliau berkeinginan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari gaya kepemimpinan ala entrepreneur Ir. Ciputra, diantara nya :
- Bersahaja
Sangat menarik apabila dikaitkan dengan sebelumnya mengenai hasil penelitian Jim Collins, bahwa para CEO terbaik di dunia memiliki sifat-sifat tersebut: bersahaja, rendah hati, pemalu, tidak ingin menonjolkan diri.
Pakaian-pakain beliau juga sederhana. Begitu pula dengan kendaraannya. Beliau tetap rendah hati, tidak masalah menggunakan kendaraan Innova atau kendaraan murah lainnya.
- Tidak Percaya Dengan Kegagalan
Mindset berpikir seorang pemimpin sangat penting karena pengaruhnya dapat menular hebat ke seluruh elemen perusahaan. Gaya kepemimpinan Ciputra menebarkan rasa percaya diri yang sangat dalam kepada semua karyawannya.
- Learning Spirit Karyawan
Dengan adanya peningkatan di kedua hal tersebut, mutu perusahaan adalah sesuatu yang niscaya. Seperti pernah dikatakan Jim Collins bisnis terpenting seorang pengusaha sesungguhnya adalah mencari, mengelola, membentuk talenta-talenta bagi pencapaian suatu perusahaan ataupun institusi.
Jika Anda ingin membesarkan perusahaan, pertama-tama yang perlu Anda pikirkan adalah sumber dayanya. Bukan yang lain.
Faktor – factor yang mempengaruhi kepemimpinan ciputra adalah factor personal dan dan factor situasi kondisi. Ciputra mempunyai tekad yang kuat untuk mewujud kan cita – cita nya serta keberanian dan kegigihan nya seperti pada awal mula membangun bisnis nya dia berani untuk menemui gubernur Jakarta pada era itu untuk mengajukan proposal pembangunan pasar senen.
berikut adalah profil lebih lengkap dari bapak Ciputra
Dr. Ir. Ciputra, yang lahir di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan, ia anak ke 3 dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang juga berlatar belakang keluarga sederhana. Ketika berusia 12 tahun ia kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu dianggap mata-mata Belanda. Kepahitan masa kecil telah menimbulkan tekad dan keputusan penting yaitu memiliki cita-cita bersekolah di Pulau Jawa demi hari depan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan. Akhirnya Dr. Ir. Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah walau terlambat.
Ia terlambat karena negara kita masih dalam suasana peperangan dengan tentara Belanda maupun Jepang. Ia masuk kelas 3 SD di desa Bumbulan walau usianya sudah 12 tahun atau terlambat hampir 4 tahun. Ketika usianya 16 tahun lulus dari SD kemudian melanjutkan SMP di Gorontalo dan jenjang SMA di Manado setelah itu memasuki ITB jurusan arsitektur di Bandung. Terlambat tapi bukan berarti terhambat bukan..?
Keseluruhan pendidikan masa remaja Dr. Ir. Ciputra memang merupakan gabungan dari pendidikan yang akademis dan juga non akademis, di dalam kelas dan juga di luar kelas. Inilah yang dapat disebut sebagai sekolah kehidupan yang membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan utuh. Oleh karena itu tidak heran bila saat ini ia berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membangun manusia seutuhnya dan beberapa cirinya adalah membangun moral, mendorong kreativitas dan mendidik karakter-karakter mandiri siswa-siswinya.

Karya-karya besar Ciputra begitu beragam, karena hampir semua subsektor properti dijamahnya. Ia kini mengendalikan 5 kelompok usaha Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, dan Ciputra Development yang masing-masing memiliki bisnis inti di sektor properti. Proyek kota barunya kini berjumlah 11 buah tersebar di Jabotabek, Surabaya, dan di Vietnam dengan luas lahan mencakup 20.000 hektar lebih. Ke-11 kota baru itu adalah Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan, CitraRaya Surabaya, Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City di Hanoi, Vietnam. Proyek-proyek properti komersialnya, juga sangat berkelas dan menjadi trend setter di bidangnya. Lebih dari itu, proyek-proyeknya juga menjadi magnit bagi pertumbuhan wilayah di sekitarnya.
Perjalanan bisnis Ciputra dirintis sejak masih menjadi mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung. Bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali, teman kuliahnya, sekitar tahun 1957 Ciputra mendirikan PT Daya Cipta. Biro arsitek milik ketiga mahasiswa tersebut, sudah memperoleh kontrak pekerjaan lumayan untuk masa itu, dibandingkan perusahaan sejenis lainnya. Proyek yang mereka tangani antara lain gedung bertingkat sebuah bank di Banda Aceh. Tahun 1960 Ciputra lulus dari ITB. Ke Jakarta…Kita harus ke Jakarta, sebab di sana banyak pekerjaan, ujarnya kepada Islamil Sofyan dan Budi Brasali. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah yang menentukan jalan hidup Ciputra dan kedua rekannya itu. Dengan bendera PT Perentjaja Djaja IPD, proyek bergengsi yang ditembak Ciputra adalah pembangunan pusat berbelanjaan di kawasan senen. Dengan berbagai cara, Ciputra adalah berusaha menemui Gubernur Jakarta ketika itu, Dr. R. Soemarno, untuk menawarkan proposalnya. Gayung bersambut. Pertemuan dengan Soemarno kemudian ditindak lanjuti dengan mendirikan PT Pembangunan Jaya, setelah terlebih dahulu dirapatkan dengan Presiden Soekarno.
Setelah pusat perbelanjaan Senen, proyek monumental Ciputra di Jaya selanjutnya adalah Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jay. Melalui perusahaan yang 40% sahamnya dimiliki Pemda DKI inilah Ciputra menunjukkan kelasnya sebagai entrepreuneur sekaligus profesional yang handal dalam menghimpun sumber daya yang ada menjadi kekuatan bisnis raksasa. Grup Jaya yang didirikan tahun 1961 dengan modal Rp. 10 juta, kini memiliki total aset sekitar Rp. 5 trilyun. Dengan didukung kemampuan lobinya, Ciputra secara bertahap juga mengembangkan jaringan perusahaannya di luar Jaya, yakni Grup Metropolitan, Grup Pondok Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan yang terakhir adalah Grup Ciputra. Jumlah seluruh anak usaha dari Kelima grup itu tentu di atas seratus, karena anak usaha Grup Jaya saja 47 dan anak usaha Grup Metropolitan mencapai 54. Mengenai hal ini, secara berkelakar Ciputra mengatakan: Kalau anak kita sepuluh, kita masih bisa mengingat namanya masing-masing. Tapi kalau lebih dari itu, bahkan jumlahnya pun susah diingat lagi.
Fasilitas merupakan unsur ketiga dari 10 faktor yang menentukan kepuasan pelanggan. Konsumen harus dipuaskan dengan pengadaan fasilitas umum dan fasilitas sosial selengkapnya. Tapi fasilitas itu tidak harus dibangun sekaligus pada tahap awal pengembangan. Jika fasilitas selengkapnya langsung dibangun, harga jual akan langsung tinggi. Ini tidak akan memberikan keuntungan kepada para pembeli pertama, selain juga merupakan resiko besar bagi pengembang. Ciputra memiliki saham di lima kelompok usaha (Grup Jaya, Grup Metropolitan, Grup Pondoh Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan Grup Ciputra). Dari Kelima kelompok usaha itu, Ciputra tidak menutupi bahwa sebenarnya ia meletakkan loyalitasnya yang pertama kepada Jaya. Pertama, karena ia hampir identik dengan Jaya. Dari sinilah jaringan bisnis propertinya dimulai. Sejak perusahaan itu dibentuk tahun 1961, Ciputra duduk dalam jajaran direksinya selama 35 tahun: 3 tahun pertama sebagai direktur dan 32 tahun sebagai direktur utama, hingga ia mengundurkan diri pada tahun 1996 lalu dan menjadi komisaris aktif. Kedua, adalah kenyataan bahwa setelah Pemda DKI, Ciputra adalah pemegang saham terbesar di Jaya.
PT Metropolitan Development adalah perusahaannya yang ia bentuk tahun 1970 bersama Ismail Sofyan, Budi Brasali, dan beberapa mitra lainnya. Kelompok usaha Ciputra ketiga adalah Grup Pondok Indah (PT Metropolitan Kencana) yang merupakan usaha patungan antara PT Metropolitan Development dan PT Waringin Kencana milik Sudwikatmono dan Sudono Salim. Grup ini antara lain mengembangkan Perumahan Pondok Indah dan Pantai Indah Kapuk. Kelompok usaha yang keempat adalah PT Bumi Serpong Damai, yang didirikan awal tahun 1980-an. Perusahaan ini merupakan konsorsium 10 pengusaha terkemuka – antara lain Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaya, Sudwikatmono, Ciputra dan Grup Jaya – yang mengembangkan proyek Kota Mandiri Bumi Serpong Damai seluas 6.000 hektar, proyek jalan tol BSD – Bintaro Pondok Indah, dan lapangan golf Damai Indah Golf.

Grup Ciputra adalah kelompok usahanya yang Kelima. Grup usaha ini berawal dari PT Citra Habitat Indonesia, yang pada awal tahun 1990 diakui sisi seluruh sahamnya dan namanya diubah menjadi Ciputra Development (CD). Ciputra menjadi dirutnya dan keenam jajaran direksinya diisi oleh anak dan menantu Ciputra. Pertumbuhan Ciputra Development belakangan terasa menonjol dibandingkan keempat kelompok usaha Ciputra lainnya. Dengan usia paling muda, CD justru yang pertama go public di pasar modal pada Maret 1994. Baru beberapa bulan kemudian Jaya Real properti menyusul. Total aktiva CD pada Desember 1996 lalu berkisar Rp. 2,85 triliun, dengan laba pada tahun yang sama mencapai Rp. 131,44 miliar. CD kini memiliki 4 proyek skala luas: Perumahan Citra 455 Ha, Citraraya Kota Nuansa Seni di Tangerang seluas 1.000 Ha, Citraraya Surabaya 1.000 Ha, dan Citra Indah Jonggol. 1.000 Ha. Belum lagi proyek-proyek hotel dan mal yang dikembangkannya, seperti Hotel dan Mal Ciputra, serta super blok seluas 14,5 hektar di Kuningan Jakarta. Grup Ciputra juga mengembangkan Citra Westlake City seluas 400 hektar di Ho Chi Minh City, Vietnam. Pembangunannya diproyeksikan selama 30 tahun dengan total investasi US$2,5 miliar.
Selain itu, CD juga menerjuni bisnis keuangan melalui Bank Ciputra, dan bisnis broker melalui waralaba Century 21. Sejak beberapa tahun lalu, Ciputra menyatakan Kelima grup usahanya – terutama untuk proyek-proyek propertinya – ke dalam sebuah aliansi pemasaran. Aliansi itu semula diberi nama Sang Pelopor, tapi kini telah diubah menjadi si Pengembang. “Nama Sang Pelopor terkesan arogan dan berorientasi kepada kepentingan sendiri,” ujar Ciputra tentang perubahan nama itu. biografiku.com
Perjalanan Ir Ciputra Sebelum Mencapai Puncaknya

Dalam biografi Ciputra ini menjelaskan bagaimana sejak kecil Ciputra telah mengalami kesulitan atau cobaan dalam hidup, dengan tertangkap ayahnya yang dituduh sebagai mata-mata Belanda/Jepang oleh pasukan yang tak dikenal dan sejak itu ayahnya tidak kembali. Denga ujian yang bertubi-tubi iya tidak patah semangat, terbukti dengan terus mencari ilmu dari mulai SMP dan SMA di Manado dan kemudian melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung.
Baca Juga : Biografi Ir Soekarno Singkat – Inspirasi Business Owner
Saat kuliah ia bersama Budi dan Ismail Sofyan mendirikan sebuah usaha konsultan arsitektur bangunan yang berkantor disebuah garasi. Setelah Ciputra lulus dan meraih gelar insinyur, beliau langsung pindah ke Jakarta untuk memperdalam pengalaman.
Nah, di Jakarta ini beliau memulai karirnya di perusahaan daerah milik Pemda DKI, tepatnya di Jaya Group. Loyalitas yang dibuatnya tidak tanggung-tanggung yaitu menjabat sebagai direksi sampai dengan usia 65 tahun dan dilanjutkan menjadi penasihat perusahaan. Dengan kebebasan inovasi yang diberikan kepada Ciputra, salah satu proyek fenomenal yang dikerjakannya adalah pembanguna Ancol.
Kemudian bersama temannya Sudono Salim, Sudwikatmono, Budi Brasali, dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolian Group, dengan membangun perumahan mewah didaerah elit Jakarta. Pada masa itu pula, Ir Ciputra menjabat sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris. Setelah berlangsung cukup lama dan telah berpengalaman dalam dunia bisnis Akhirnya Ciputra mendirikan grup perusahaan keluarga, yaitu Ciputra Group.
Perjuangan Ir Ciputra Untuk Bangkit dari Keterpurukan
Tidak selamanya seorang yang diatas akan terus berada disana, tetapi selalu ada cobaan untuk membuktikan apakah layak untuk terus berada disana. Jika layak, maka sudah pantas untuk terus berada diatas. Perlu diketahui semuanya, bahwa setiap orang sukses itu memiliki jatah gagal mereka masing-masing.Tepatnya pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra, yaitu Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu, Bank Ciputra yang sempat didirikannya ditutup oleh Pemerintah karena dianggap tidak layak untuk terus berdir, dan Asuransi Jiwa Ciputra Allstate yang baru dirintis menjelang krisis pun sama nasibnya dengan bank tersebut, ikut ditutup. Dengan adanya kebijakan moneter dari pemerintah dan diskon bunga dari beberapa bank, Ciputra mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi tagihan utang-utangnya yang menumpuk.
Dengan kegigihan dan terus berjuang untuk tidak mudah putus asa ketika jatuh, akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam bahkan ke luar negeri.
Kesimpulan
Dari pemaparan biografi ciputra diatas semoga dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman semua yang membaca, dan terus menjadi motivasi untuk terus berjuang, walaupun telah jatuh (dalam arti gagal). Satu hal yang ditekankan dari kisah Ciputra adalah dalam seriusnya beliau menjalani pendidikan, pendidikan itu tidak hanya ilmu yang didapat tetapi relasi serta sesuatu berharga lainnya yang Anda temukan tanpa disadari.Semoga Bermanfaat & Salam Berbagi 🙂
dan siapa juga yang tahu bahwa bapak ciputra adalah salah seorang tokoh seni rupa yang ada di indonesia. Berikut adalah penjelasannya .
MENGENAL TOKOH RUPA

Ia seorang nasionalis yang menunjukan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Pak djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutannya, bagai air dan api sejak tahun 1935.
Tapi beberapa bulan sebelumnyaPak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dengan Basuki bersama pelukis Affandi dalam pameran bersama di pasar seni ancol, Jakarta. Sehingga menteri P&K Fuad Hassan, ketiak itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.
Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunandi Kisaran,Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda Sumuatra Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusomo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusomo, kemudian membawanya ke Batavia tahun 1925.
Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Wakil Presiden Republik Indonesia(1972-1978) Yogyakarta. Dia pun sempat belajar khusus monitor sebelum belajar melukis pada RM Pringadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta. Bahkan sebenarnya pada awalnya dia lebih mempersiapkan diri menjadi guru daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Wakil Presiden Republik Indonesi (1972-1978) Yogyakarta, ia ditugaskan Menteri Pendidikan, Pengajarn dan Kebudayaan yang pertama Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.
Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakrya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagi awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis. Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia), 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru bicara Persagi.
Sudjojono, selain piawai melukis , juga banyak menulis beberapa buku dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.
Lukisannya mempunyai ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasananya. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.
Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada tahun 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bias memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Djon mencerraikan istri pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi Seriosa, Rose Pandanwangi. Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Darii pernikahannya dia dianugrahi 14 anak.
Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas Menteri Penerangan dan Olah Raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.
Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juag tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara professional dan halal untuk mendapatkan uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.
Ada beberapa karya pesanan yang di banggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.
Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di; Festival of Indoonesia (USA,1990-1992); Gate Foundatiaon (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994; Center of Strategic and Internasional Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Master works ( Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).
NB : Saya menulis cerita mengenai Bapak Ciputra karena saya sangat terinspirasi dengan belau. Beliau adalah sosok yang pekerja keras dan tidak mudah menyerah bagaimanapun keadaan beliau, maka dari itulah hendaknya kita selalu melakukan segala hal itu dengan kerja keras, pantang menyerah serta tentunya dengan hati yang tulus atau ikhlas. Ingat bukan hidup yang kejam tapi kita yang kejam pada diri kita sendiri karena terkadang kita tidak mensyukuri nikmat atau takdir hidup yang tuhan sudah berikan kepada kita untuk itu kalian harus bisa bersyukur dalam menjalani hidup ini.